Kamis, 12 Mei 2016

Connection

Sudah menjadi suatu ciri khas bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Sehingga ketika manusia tidak memenuhi ciri makhluk sosial, setuju nggak kalau ke eksistensiannya sebagai manusia perlu dipertanyakan? Hehe 😀

Tentang makhluk sosial kita pasti sudah belajar bahwasanya manusia membutuhkan orang lain untuk saling berhubungan, membantu bahkan mungkin saling bermusuhan. Hal ini terjadi secara alami karena manusia diciptakan berakal dan memiliki keinginan untuk jadi lebih dan lebih.
Ke pembahasan lain sebentar ya, jadi..dulu aku pernah menonton sebuah video dr zakir naik. Lalu aku jadi paham kenapa manusia dianggap sebagai makhluk yang lebih baik dari makhluk lain.  Itu karena kita ini punya akal untuk berfikir, dan diberi nafsu untuk memiliki keinginan.

Ketika manusia menggunakan akal dan bisa memanage nafsunya,maka dia lebih baik dari malaikat yang tercipta tanpa nafsu, dan ketika ia membiarkan saja nafsunya..maka dia lebih buruk dari hewan. Dan bagiku, ini sangat adil dan berat tanggungjawabnya.

Baiklah, kembali ke sifat manusia sebagai makhluk sosial. Kita punya cara untuk menujukkan sifat makhluk sosial ini.. Boleh nggak hal ini kusebut dengan koneksi? 😀

Yapp menurutku, koneksi selalu menunjukkan sisi manusia kita. Baik itu koneksi kita kepada Pencipta kita, kepada sesama, lalu koneksi kita kepada alam..yang kesemuanya akan dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan -kenapa koneksi itu ada.

Koneksi pertama yang harus di sambungkan yaitu koneksi kepada Pencipta kita. Sebagai siapa kita terkoneksi padaNya?
"Dan tidaklah aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (Adz-Dzariaat : 56)

Dari ayat diatas..menunjukkan bahwa kita diciptakan sebagai hambaNya. Jadi untuk menyambungkan koneksi kita padaNya, kuncinya adalah dengan ibadah.
Thats the point.

apa kabar ibadahku?
ibadahmu?
bagaimana hari-hari ini?
sibuk dengan koneksi dunia?
pekerjaan?
ambisi?
apa hati tidak lelah?
tidak rindu?

Disini sendiri, aku sangat perlu memperbaiki koneksiku denganNya. Semoga koneksi mu baik-baik saja denganNya.
Sebentar lagi ramadhan..
Sebentar lagi bulan syahdu itu datang 😭
Tak ada yang tau apakah kita bisa menemui bulan itu.

Sekarang pun..ada waktu.
Jangan menunggu pagi. 😊

Jumat, 18 Desember 2015

Naik Tingkat

Bencana atau rejeki itu sama-sama ujian.. rasa cinta juga ujian. Kalau kita bisa melewati itu semua dengan baik dan semestinya, sesuai koridorNya.
Berarti kita naik tingkat.
Sesimpel itu..walau nggak gampang melakukannya.

Semangat untuk semua penduduk bumi yang ingin menaikkan tingkatnya. Ujian yang di depanmu bisa jadi dalam bentuk bencana, atau bisa jadi dalam bentuk rejeki dan bisa jadi dalam bentuk rasa cinta. Syukuri hal itu karena mereka datang agar kita menjadi lebih baik, mungkin kalau tidak ada mereka kita akan tetap jadi kita yang ini-ini aja.  Lagi - lagi.. yang baik adalah melakukannya sebisa kita..dari hati tanpa ada pemaksaan. Selamat menjadi lebih baik.

Jumat berkah ;)
======================================
[21:35]

Kamis, 17 Desember 2015

Perempuan Baik #2

Lagi-lagi kalau bukan karena Allah Yang Maha Pengasih.. aku mungkin akan terus lupa. Hidup itu pilihan kan? Dan ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya..kita perlu bijak untuk memilih langkah yang terbaik.

Aku kembali.. dengan jawaban dari beliau yang kuanggap memiliki ilmu yang mumpuni. Seorang mbak yang pernah bertemu di PII yang sekarang sedang mendalami ilmu agama lebih dari orang lain yang kukenal.

Ketika aku bertanya bagaimana cara menjadi perempuan baik.. beliau berkata :
"Islam telah mengistimewakan wanita di atas fitrohnya.. Dengan senantiasa belajar ilmu din muslimah akan tau hak dan kewajiban nya.. Pertama yg mesti dilakukan adalah tholabul ilmi syar'i.."

"Juga berusaha utk memiliki teman yg sholihah yg bisa saling menasihati dlm kebaikan..."

Sedetik..dua detik..tiga detik.. tentu kamu sedang mencerna jawabannya kan? Sederhana ! namun jawaban ini adalah yang terbaik. Nggak usah muluk-muluk berbicara tentang teknis ya....?

Pada akhirnya..jika kita mendalami ilmu, meyakininya, dan mengamalkannya sebagai suatu kebiasaan, maka hati kita akan sangat mungkin bisa seteguh hati Siti Mashithoh dan Maryam. Dengan memperdalam ilmu din..kita jadi tau apa hak kita..dan apa kewajiban kita.

Dan juga berteman dengan sholihah yang menjaga kita, saling menasehati dalam kebaikan, serta saling mengingatkan. Mereka juga akan membuat hati kita lebih teguh.

Lalu..tentang menjadi istimewa di hadapan Allah. Aku ingat seseorang pernah bertanya padaku. "Apa amalan selain amalan wajib yang sering kamu lakukan?" Semisal.. seorang fulan setiap hari selalu mengerjakan sholat dhuha tanpa absen. Maka Allah akan mengenali Fulan sebagai seorang yang suka mengerjakan shalat dhuha. Atau mungkin.. semisal seorang fulan rutin shalat sunnah sebelum subuh. Maka Allah akan mengenali fulan sebagai seorang yang rutin mengerjakan shalat Fajr.

Menjadi istimewa, pada akhirnya yaitu tentang keistiqomahan mengamalkan ilmu.

Jangan menunggu pagi.
Karena manusia selalu punya awal dan harus punya akhir.. semua orang ingin akhir yang baik. Entah melewati taman indah terlebih dahulu atau jerami penuh duri. Kebenaran itu mahal harganya.

Emm.. nggak ada maksud menggurui. Aku hanya suka menulis awal - klimaks - dan akhir pencarianku. Ketika suatu saat aku lupa.. tulisan ini akan mengingatkanku kembali. iya kan..mungkin bisa mencegah terjadinya "deteriosasi"... #Eh

Selamat malam menjelang pagi.

Perempuan Baik #1

Hari ini seharusnya aku bahagia.. tapi sepotong hatiku yang lain merasa menyesal, takut, bersalah.

Ya..hari ini adalah salah satu hari dimana Allah mengingatkanku kembali. Tentang betapa mudah lupanya manusia.

Ini tentang menjadi perempuan baik. Tentang Maryam, Khodijah, Fatimah, Aisyah, Siti Mashitoh dan sederet perempuan-perempuan teguh, sederet role mode yang pernah exist di dunia ini, tapi entah kenapa- manusia ini masih lupa.
Aku merasakannya sendiri. Jadi perempuan itu nggak mudah, apalagi jadi perempuan baik. Aku sedang bertanya-tanya, tentang bagaimana Siti Mashitoh teguh menjaga imannya. Tentang bagaimana Maryam teguh menjaga "Izzah"nya. Tentang bagaimana Khodijah dan Aisyah yang teguh menjadi ibu peradaban. Tentang bagaimana Fatimah menjaga hatinya.
Aku sedang bertanya-tanya bagaimana perempuan hebat tetap teguh pada apa yang diyakininya dan menjadi istimewa di hadapan Allah.

Baiklah.. aku tau mengeluh karena menjadi perempuan baik itu susah.. bukanlah hal yg bijak. Sama sekali bukan hal bijak.
Tapi bagaimana..bagaimana kita bisa menjadi perempuan yang baik?
Bagaimana kita bisa menjadi se istimewa Maryam. Dimana cerita beliau dijadikan satu surah sendiri di dalam Al-Quran karena teguh menjaga kesuciannya?

Agar hati ini yang sudah tau tak menjadi lupa, tak menjadi dzalim, tak menjadi kufur.

Dan maafkan aku..aku sedang dalam tahap "menyadarkan diri" kawan. Aku juga sedang lupa dan baru saja menghempaskan kaki ku ke jurang terdalam. Melihat dari jurang itu.. dan mencari jawaban. Aku belum menemukannya. Aku akan mencarinya dan kembali ketika aku mendapatkan jawabannya. InsyaAllah. Walau sedikit. Tunggu.

Jumat, 09 Oktober 2015

Pagi

Mengawali semuanya dengan niat baik.
Bahwa pagi ini kita melangkahkan kaki untuk tujuan yang baik.
Semoga hal-hal baik yang akan datang
Dan kamu perlu berusaha..
Ya, kamu perlu mempertaruhkan banyak hal terlebih dahulu,sebelum kamu mendapatkan trophy yang kamu inginkan.
Berusaha dan pantang menyerah itu kuncinya kan?
Jadi, walaupun progesifitas kebaikanmu berjalan sangat lambat, suatu saat kamu tetap akan menuai hasilnya.
Hargailah dirimu yang menjadi lebih baik sedikit demi sedikit.
Semoga hati mu tetap di kuatkan.
Bismillahirrahmanirrahim
(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
Yuk, senyum !