Jumat, 15 Juni 2012

Ruang Tak Terukur

Siang. Saat matahari terik menyengat kulitku
Saat itu aku selalu merasa bahwa bumi tempatku berpijak adalah milikku
aku bebas berlari-berhenti-diam-berlari kemanapun tanpa rasa takut
Tapi malam, saat langit sudah gelap dan kulihat bintang-bintang disna
aku mulai membayangkan banyak galaksi seperti yang para ahli gambarkan
membayangkan bumi hanya sebagai bola,
beredar di antara venus dan mars
bersama-sama mengitari matahari.
semakin jauh memandang, semakin kecil bola itu,
lalu menjadi titik kecil yang bersinar,
semakin jauh diantara kegelapan,
dan sinar itu semakin menghilang bersama ratusan bintang redup lainnya
yah.. hilang di tengah ruang gelap tak terukur yang disebut alam semesta,
bisa membayangkan sinar bumi itu menghilang,
dan akhirnya tidak menemukan diriku di bagian manapun di ruang tak terukur itu
bagian mana dariku yang perlu di sombongkan?
saat spt itu, manusia ini br sadar, kecil dan tak berdaya.



"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari" Q.S. Faathir [13]

Minggu, 03 Juni 2012

Ini cerita ku, cerita nyata dalam hidupku.

Ini cerita ku, cerita nyata dalam hidupku.

 Aku lahir di kudus, 23 Februari 1994. Dilahirkan oleh seorang ibu yang baik, di tuntun oleh ayah yang baik, lalu ketika umurku 14 bulan, adikku lahir, sehat, cantik. Aku terlahir di keluarga yang cukup. Ayahku dan ibuku, walaupun bukan seorang ustadz ataupun ustadzah mereka mendidikku selayaknya seorang muslim yang baik. Walaupun saat kecil aku nakal, suka sekali bermain,  tidak suka belajar, lebih senang bersepeda, berlari bersama teman-teman dan tentu saja merepotkan orang tuaku. tetapi mereka masih tetap mengasuhku dengan baik.

Sampai umurku 18 tahun, aku masih tetap anak mereka yang merepotkan. Beberapa bulan lalu, tepat saat umurku 18 tahun ibuku mengajakku pergi ke rumah sakit di semarang, bersama ayah juga. Untuk kontrol penyakitnya. Sudah sejak dulu aku tau ibu menderita satu penyakit yang menakutkan, tapi aku baru tau seluruh ceritanya pada saat itu, 23 Febuari 2012. Kata umiku- begitu aku memanggil beliau, penyakitnya sudah sangat parah. Sudah sepuluh tahun lamanya penyakit itu mengganggu umiku. Sejak beberapa bulan terakhir kali aku melihatnya (karena aku kuliah di solo), beliau memang terlihat sangat kurus tiba-tiba. Pertanyaan yang selalu kulontarkan pada umi. "Kok umi tambah kurus?"

Umiku adalah seorang dokter, begitu di beritahu dokter spesialis yang menangani penyakitnya, umiku langsung menjelaskan semua padaku. aku tau sedikit2 karena aku juga sedang mempelajari secara umum "penyakit itu". Dalam setiap kata-katanya, beliau memang terlihat pasrah, putus harapan. karena memang umiku lebih mengerti apa yang terjadi daripada abiku dan aku. Ya.. karena paham satu dua kata yang diucapkannya, di ruang tunggu di rumah sakit mati-matian kutahan tangisku. walaupun satu dua air mata meleleh tapi aku terus menahannya, tidak ingin menangis di depan umi, abi dan orang2 yg ada di rumah sakit.

Saat itu umiku sudah berjalan terpincang, dan karena rumah sakit itu luas umiku di pinjami kursi roda untuk menuju ruang demi ruang pemeriksaan. aku di belakangnya, menahan semua perasaan. Lebih memilih bertanya hal-hal tak penting yang barangkali membuat umiku tertawa. Saat menunggu, beliau menepuk pundakku, berkata kalau beliau senang dan bersyukur punya suami yang baik dan dua anak yang cantik2. ya.. aku ingin menangis saat itu juga. kata2 yg penuh makna yang diucapkan padaku. Kata umiku, aku harus memberitahukan keadaan umiku pada adikku. Dan itu yang membuatku semakin sedih. Karena aku dan adikku lebih cengeng aku, aku merasa tak sanggup mengatakannnya.

Aku mengalihkan perhatianku, meminjam hp umi untuk foto2. lalu iseng2 membuka sms beliau. mendapatkan berita terkirim kepada budheku, bilang pada budhe ku kalau penyakitnya kambuh dan sudah sangat parah juga bilang telah memberitahu semuanya padaku.

Ya.. sambil menuntun umiku menuju mobil, kutahan tangisku. Begitu sampai mobil, aku menangis dalam diam, dalam kegelapan.

Setelah dari rumah sakit, hari-hari berjalan suram. Dokter spesialis penyakit tersebut sudah angkat tangan, dan hanya memberi umiku vitamin saja. Semua pengobatan medis memang sudah di tempuh umiku sepuluh tahun terakhir, dan belum ada pengobatan yang lebih canggih saat ini. Umiku sudah loyo, tapi abi tetap menyemangatinya, adikku juga telah berhasil membujuk ibuku untuk melakukan pengobatan lain seperti herbal. Tapi, dua minggu kemudian saat aku pulang, umi tidak lagi berjalan terpincang, kini beliau harus mengenakan tongkat. Ya.. perasaanku begitu sampai rumah campur aduk. Rasanya ingin mundur di semester dua. menunda semesterku untuk merawat ibuku.

Aku kembali ke solo untuk belajar, namun dua minggu kemudian aku pulang ke jepara dan mendapati umiku sudah tidak dapat berjalan lagi. Abiku bilang, penyakitnya lebih cepat daripada obatnya.

Begitu sampai bulan april, umiku semakin parah. masih dapat sholat di tempat tidur tapi sudah tak bisa lagi mengambil air wudhu. Jika ada beberapa orang yang menjenguknya, umiku tersenyum, berkata "iya semangat" jika orang-orang itu menyemangatinya. Walaupun pada akhirnya banyak orang yang menjenguknya dan saat berpamitan memelukku sambil menangis. "ibu orang baik, ibu tetap di doakan, di semangati" kurang lebih seperti itu. Aku hanya mengangguk-angguk dan berusaha tersenyum saja. Tak lebih dan tak kurang.

Sekitar minggu-minggu awal bulan april umiku sesak nafas. Aku yang saat itu posisinya di solo langsung di suruh pulang abi. tapi saat itu aku tutorial dan berencana baru pulang setelah tutorial. namun takdir berkehendak lain, begitu ibuku sesak nafas, teman-temannya sesama dokter langsung membawa umiku ke klinik di salatiga. Disana Alhamdulillah
 sesak nafas umiku sudah berkurang. umiku terlihat sehat begitu aku menjenguk beliau di klinik tersebut. Beberapa teman seperjuangan umiku di ormas muslim dan beberapa teman abiku menjenguknya. beberapa nasehat serta semangat terus dilontarkan dari mulut mereka. Salah satunya yang membuatku terperangah. "Memang Allah menguji keimanan seseorang dengan hal seperti ini, sakit. Apakah dengan penyakit separah ini kita akan tetap percaya pada Allah ataukah beralih percaya pada hal-hal lain." kurang lebih seperti itu.

Hari berganti hari, lalu berganti minggu. Setelah dari salatiga umiku pulang lagi ke jepara. tapi lagi-lagi penyakitnya tambah parah. sesak nafas sudah setiap hari dilaluinya. walaupun begitu umiku masih tersenyum dan khusyuk di setiap doanya. sampai akhirnya penyakit umiku sudah sangat parah. melewati tanggal 23 April 2012 (dimana adikku berumur 17 tahun) pada tanggal 26 April 2012 ibuku meninggal, suhu tubuhnya memang tinggi mencapai 40 derajat karena penyakit di tubuhnya, sebelum hari itu aku memang sengaja bolos kuliah dan menemaninya di rumah sakit tempat dimana sejak 18 tahun lalu umiku bekerja.

Banyak teman sejawatnya menjenguknya, beberapa menahan nafas kaget melihat umiku yang biasanya memang lincah bekerja hanya terbaring dan berusaha tersenyum di tempat tidur. beberapa tak kuasa menahan air mata dan langsung saja keluar dari kamar inap. melihat teman-teman umiku (entah mereka yang bekerja dalam satu rumah sakit ataupun yang berbeda rumah sakit) aku jadi tau umiku adalah teman mereka yang membekas. ya... menurutku, umiku memang ibu yang baik, memikirkan anak-anaknya, suaminya, semua orang di dekatnya entah itu keluarga atau pun tetangganya. walaupun tidak bisa dipungkiri umiku juga pernah melakukan kesalahan.

Tapi sampai akhir hayat umiku, umiku masih berpegang teguh pada imannya, selalu mengiyakan apa yang (baik) dikatakan abiku, membagi cerita dan meminta diminumkan air padaku, kakak-kakaknya dan adikku sampai kelelahan, meminta dibacakan Al-Qur'an dan Al-Ma'surat. Dalam suasana kemarau yang di derita beliau, sekali lagi menyadarkan hati terutama hatiku bahwa memang Allah lah pemilik segalanya.

Umiku sudah tiada. aku, adikku, dan abiku memang sudah ikhlas apapun yang terjadi. kami memang menangis, tapi kami tidak meraunginya. kami menangis dalam diam. aku bahkan tidak melihat detik-detik kepergian umiku. aku baik-baik saja, sejak awal sudah kutekadkan dan kutanamkan dalam hatiku. Aku sudah tidak suka menangis lagi, aku sudah tidak ingin jadi anak cengeng lagi.

Banyak nasehat dan semangat diberikan padaku. Kata budheku, umiku pernah bilang kalau umiku sudah diberi bonus hidup 10 tahun karena penyakitnya yang ganas. Budheku juga bilang, doa anak sholeh, doa anak-anak umiku (aku dan adekku) akan lebih mujarab daripada doa satu kampung sekaligus.
Apalagi begitu abi bilang "bapak sama ibu yakin pada hal yang sama, bahwa mati sudah ditentukan, panjang atau tidaknya umur sudah ditetapkan Allah"

Ya.. hal2 yang membuatku semakin kuat. Keluargaku, teman-temanku juga teman-teman abi dan umiku. terimakasih. Alhamdulillah aku dipertemukan ibu sebaik umi, dipertemukan dengan orang-orang yang menguatkanku. Aku yakin suatu saat aku juga akan mati, entah kapan itu.

Doa untukku padamu umi, semoga Allah senantiasa memberkahimu, memberi ampunan padamu, memberikan tempat yang baik disisiNya. Unhibukka fillah ya umi..

di detik dalam kehidupan ku, aku semakin percaya. Bahwa Engkau lah Yang Maha Adil, Engkau lah Yang Maha Pengampun dan hanya kepada Engkau lah tempat kami bergantung. Tuhanku, Allah Yang Maha Besar.